Page 1 of 2 12 LastLast
Results 1 to 10 of 20

Thread: Hadis Rasulullah Tentang Ilmu

  1. #1
    ROLer Starter Roller Starter
    Join Date
    Sep 2011
    Usia
    39
    Posts
    193
    Rep Power
    3

    Hadis Rasulullah Tentang Ilmu

    Hadis Rasulullah tentang Ilmu yang diakui oleh semua mazhab dalam Islam selain hadis: "Aku adalah kota Ilmu dan Ali adalah pintunya" Adalah hadis tentang keutamaan ilmu. Diantaranya adalah kewajiban bagi kaum muslimin untuk mencari ilmu dimanapun ilmu tersebut berada, seperti hadis tentang negeri China.

    beberapa orang menafsirkan makna hadis tersebut dengan bahwa di negeri china terdapat banyak ilmu, tapi apabila kita cermati lebih lanjut semantik dari kalimat hadis tersebut maka justru menunjukkan sebaliknya. sebenarnya detail maknawi dari hadis tersebut bukan: "belajarlah atau carilah ilmu sampai ke negeri China." seperti yang sering dimaknai orang.

    Hadis ini akan membingungkan jika tidak secara cermat ditelusuri makna semantik kalimatnya,karena pada kenyataannya tidak ada seorangpun ilmuwan Islam yang pada masa keemasannya merupakan pusat-pusat keilmuwan dunia, (bahkan khasanah para ilmuwan islam merupakan landasan kemajuan ilmu pengetahuan modern saat ini) yang pernah belajar ke china.

    Kalau kalimatnya ini ditafsirkan secara serampangan tanpa melihat detail semantiknya memang akan bermakna harfiah, yaitu bahwa orang-orang yang harus mengikuti perintah hadis ini (kaum muslimin) harus pergi ke negeri China, tentu dengan berbagai asumsi, seperti kemampuan melakukan perjalanan dan sebagainya.

    tapi pada detail kalimat pada hadis yang benar sesungguhnya terdapat kata penghubung: 'walaupun' diantara 2 frase itu, jadi yang benar: "Carilah ilmu walaupun sampai ke negeri China." Kalau kalimatnya seperti ini maka frase "sampai ke negeri China" bermakna kiasan. Karena penekanan kata penghubung 'walaupun' terletak pada frase 'mencari ilmu' bukan pada frase 'sampai ke negeri China.'

    Ilmu secara mandiri adalah kebenaran, dari segala sudut pandang mutlak tidak melihat kuantitasnya maupun kualitasnya adalah tetap sebuah kebenaran. Oleh karena itu ilmu walaupun sedikit, ataupun banyak sama saja, ataupun susah, tetap harus dicari. Misal disuatu tempat ilmu nyaris tidak ada, tapi keberadaannya ilmu yang sekedar nyaris di suatu tempat itu tetap harus/wajib dicari oleh orang2 yang merasa mengikuti perintah tersebut. Ini adalah sabda untuk memuliakan ilmu.

    penggunaan kata walaupun sebagai kata penghubung menyebabkan pola kalimat tersebut adalah negasi penguat predikat pada frase pada suatu sisi akan menegasi frase opositnya, oleh karena itu apabila hadis tersebut berfungsi sebagai penguat, dimana ilmu adalah hal yang dikuatkan, ditekankan, maka frase opositnya atau frase diseberangnya seharusnya yaitu "sampai ke negeri china" seharusnya justru lemah dalam hal kualitas maupun kuantitas ilmu. oleh karena itu jika tempat yang diperintahkan oleh rasulullah untuk mencari ilmu tersebut minim ilmu atau tempat yang lebih sukar untuk mencari ilmu, maka justru ilmu itu sendiri akan lebih berarti mulia, hadis ini bertujuan menjelaskan betapa mulianya ilmu.

    sebagai ilustrasi untuk lebih menjelaskan maknawi dari semantik hadis tersebut, dapat kita telusuri kalimat-kalimat dibawah ini sebagai ilustrasi, semoga bisa dimengerti maksud isi nya:

    1. Belajarlah walaupun ke Negeri yg jauh (karena posisi sedang di daerah jauh dari negara yg dimaksud), maka jawabnya adalah misalnya salah satunya adalah negara norwegia, atau afrika selatan

    2. Belajarlah walaupun ke Negeri yg belum maju atau negara yg masih berkembang, misalnya negara ethiopia, nepal, Philiphine.. dll..

    3. Belajarlah walaupun ke Negri yg sudah MAJU, misalnya negara Jepang, Singapore, dll..

    pada point ke 3 disini agak janggal jika menggunakan kata "walaupun", semoga dpt dimengerti maksud dibalik kata tsbt.

    oleh karena itu makna hadis tersebut akan lebih bermakna, dalam arti akan lebih memuliakan makna dari ilmu seperti yang dimaksud oleh Rasulullah apabila contoh yang diambil oleh rasulullah adalah daerah-daerah yang justru minim ilmunya, atau daerah-daerah yang sukar untuk mencari ilmu. maka apabila kita memaknai hadis tersebut sesuai dengan makna semantiknya, maka di china pada masa nabi justru merupakan tempat yang:
    1) sukar untuk mencari ilmu, atau
    2) nyaris tidak ada ilmunya, atau
    3) tempat yang apabila dibandingkan dengan tempat lain di muka bumi ini, maka tempat tersebut paling sedikit ilmunya.

    Secara wujud, ilmu adalah suatu bentuk abstrak dari keberadaan jiwa dan ruh manusia, atau makhluk yang telah mendekati tingkat manusia seperti malaikat, jin dan setan. Pada makhluk-makhluk tersebutlah ilmu dapat ditampung. Oleh karena itu makna tempat agak rancu jika diterapkan pada ilmu. Oleh karena itu maka maksud dari hadis Rasulullah tentang ilmu tersebut pastilah berkenaan dengan kondisi psikologis manusia secara umum yang menempati wilayah tersebut. maka hadis tersebut akan bermakna memuliakan ilmu jika satu, dua atau tiga dari kemungkinan tiga keadaan terpenuhi, yaitu:
    1) bahwa karakter orang-orang china secara umum adalah suka merahasiakan informasi atau ilmu atau pengetahuan tertentu sehingga sukar bagi orang luar untuk mendapatkan ilmu dari mereka. Atau dengan kata lain mereka pelit terhadap ilmu.
    2) bahwa orang-orang china secara umum nyaris tidak berilmu
    3) bahwa diantara bangsa-bangsa yang lainnya di seluruh muka bumi ini, maka secara umum orang china relatif adalah yang paling tidak berilmu diantara mereka.

    sebenarnya, sedikit banyak beberapa karakter kemungkinan diatas dapat dijumpai pada kenyataan sebenarnya. pada yang pertama, orang china secara umum sukar membagi pengetahuannya. hal sudah nampak dari kegemaran mereka secara umum bermain rahasia-rahasiaan. juga pada masa feodal china banyak guru yang tidak memberikan semua ilmunya kepada muridnya, juga begitu susahnya seorang murid untuk mendapatkan ilmu dari seorang suhu.

    pada yang kedua, orang china secara umum nyaris tidak berilmu. Seseorang tampak berilmu atau tidak sebenarnya tampak pada adabnya, atau akhlaknya. akhlak bukanlah sesuatu yang bisa diindera, tapi hikmah yang dapat ditangkap oleh hati manusia ketika ia mengikuti perilaku seseorang. Oleh karena itu dalam konteks sosial indikator keilmuan dalam konteks suatu bangsa adalah masalah keadilan dan hukum. Apabila kita melihat hal tersebut di negeri China pada masa Rasulullah, maka sukar kita dapat melihat keberberadabannya ketika melihat penegakan keadilan pada masa feodal china. Pada masa feodal china, seseorang yang dijatuhi vonis sebagai pengkhianat, maka penghuni satu rumahnya harus bersiap-siap menghadapi pedang pemenggal maut, karena mereka dikaitkan dengan pengkhianatan kepala keluarganya. Fenomena ini jelas menunjukkan ketiadaanya adab.

    sebenarnya sampai saat sekarangpun boleh dikatakan perilaku penguasa sebagaimana pada masa feodal china masih berlaku. hukum jatuh dengan keras bagi rakyat kebanyakan china, tapi sepak terjang orang-orang yang menduduki posisi tinggi di partai komunis china, dan kerabat dekat pejuang komunis china nyaris tidak terendus oleh hukum.

    pada yang ketiga, secara umum apabila dibandingkan dengan bangsa lain di dunia maka bangsa china adalah yang paling tidak berilmu diantara mereka. hal ini justru nampak sangat mencolok pada masa sekarang. Yaitu masalah kegemaran bangsa china untuk menjiplak segala penemuan orang lain. menjiplak disamping sebenarnya melanggar hukum, atau adab pergaulan kemanusiaan, juga sebenarnya merugikan dirinya sendiri. karena kegemaran menjiplak menandakan lemahnya semangat penemuan. karena kegemaran berlarut-larut dalam hal menjiplak, maka menyebabkan bangsa tersebut cukup puas dengan kualitas hasil jiplakannya sama dengan yang asli, akhirnya daya kreasinya akan macet. Semua bangsa dan orang dapat maju jika kemajuan tersebut diperoleh dengan cara menjiplak.

    Kemudian yang paling penting lagi adalah bahwa menjiplak merupakan indikasi ketiadaan ilmu pada diri si penjiplak. inovasi timbul karena adanya dorongan atau potensi untuk memenuhi kebutuhan material di kehidupan sementara ini. dorongan tersebut akan bisa teraktualisasi dengan penemuan jika diantara keduanya terdapat gerak substansial yaitu intelektual yang mampu menghubungkan antara kesadaran kognitif dan kesadaran manusia. Atau dengan kata lain dibutuhkan ilmu untuk mengaktualkan potensi pada diri manusia. Oleh karena itu seharusnya inovasi adalah suatu hal yang fitrah pada diri manusia seiring dengan meningkatnya kebutuhan manusia itu sendiri, jika manusia tersebut mempunyai bekal untuk mengaktualisasikan potensinya, dalam hal ini bekal tersebut adalah ilmu. Inilah yang disebut dengan ibadah, (manusia yang mampu mengaktualkan potensi dalam dirinya). Jika manusia tidak berinovasi sedangkan kebutuhan hidupnya jelas selalu akan meningkat maka hal ini menunjukkan ketiadaan kepercayaan diri untuk mengaktualkan potensi atau dorongannya. Kepercayaan diri untuk mengaktualkan potensi atau dorongan tersebut ditumbuhkan karena keberadaan adanya bekal untuk mengaktualkannya, dalam hal ini adalah ilmu. Orang yang sedikit ilmunya akan selalu ragu-ragu, dalam memulai sesuatu hal yang baru yang belum pernah dialaminya. Suatu hal ang baru akan tampak sebagai resiko bagi dirinya. Oleh karena itu ia lebih suka menjiplaknya dari suatu hal yang telah dikerjakan oleh orang lain karena menurutnya hal tersebut akan meminimalisir resikonya.


    Hadis ini secara tidak langsung dapat kita masukkan sebagai mujizat karena menunjukkan kepada kita bukti kenabian Rasulullah Muhammad. Dimana pada hadis ini beliau telah menunjukkan pada kita gambaran masa depan. gambaran masa depan mengenai keadaan psikologis secara umum suatu bangsa yang mana kesempurnaan pembuktiannya, khususnya yang berkenaan dengan kasus kegemaran menjiplak, yang mana 'trend' ini baru muncul di masa depan pada kisaran dua abad di belakang ini.
    Last edited by slebore; 10-01-2011 at 05:21 AM.

  2. #2
    ROLer Starter Roller Starter
    Join Date
    Sep 2011
    Usia
    39
    Posts
    193
    Rep Power
    3

    Google Earth Proves that the Prophet Muhammad (pbuh) is RIGHT !

    Ketika pemahaman makhluk Allah sampai pada puncak-puncak Jasad, Ruh dan Kesadaran, kemudian dilanjutkan lagi sampai pada maha puncak dari pemahaman makhluk yaitu penyatuan dengan kehendak Allah. Maka portal antar dimensi sudah berada dalam genggamannya. Salah satunya adalah mujizat Rasulullah dengan mendatangkan unta antar dimensi pada Abu Jahal yang waktu itu hendak menimpakan batu besar ke kepala beliau ketika beliau sedang sujud.


    dibawah ini adalah video yang menampakkan mujizatnya, suatu yang amat mudah dan sebagian yang amat sangat sedikit saja dari kemampuan Rasulullah melakukan sesuatu, yang bagi makhluk lain akan terlihat sebagai sebuah mujizat besar


  3. #3
    ROLer Starter Roller Starter
    Join Date
    Sep 2011
    Usia
    39
    Posts
    193
    Rep Power
    3

    Mengapa Keajaiban Mujizat Al-Qur'an Sering Baru terbuktikan Pada Jaman Modern?

    Kehebatan mujizat Al-Qur'an sering melampaui jamannya. Apalagi bagi sudut pangan masyarakat kebanyakan atau awam dalam hal keilmuan Islam. Sering pembuktian isi kandungan Al-Qur'an terjadi pada masa modern, seperti tentang pernyataan dalam ayat Al-Qur'an tentang penentu gender pada janin dalam kandungan.

    Kandungan kitab suci Al-Qur'an melekat pada pengembannya yaitu Rasulullah Muhammad saw. Keyakinan para pemeluk Islam terhadap isi firman Allah disebabkan karena kapasitas atau nilai kemanusiaan dari pengembannya yaitu Rasulullah Muhammad saw. Baru kemudian sang pengemban menjelaskan makna kandungan Kitab Suci Al-Qur'an. Termasuk ayat mengenai penentuan gender janin di atas. tidak mungkin Allah tidak menjelaskan kebenaran kandungan ayat yang ada dalam kitab suci tersebut di atas kepada Rasulullah ketika beliau menerima ayat tersebut.

    Tidak mungkin pula beliau tidak menyampaikan makna ayat tentang keajaiban diatas kepada pengikut beliau kaum muslimin. Karena salah satu sifat Kenabian adalah Amanah dan menuntun. Hal ini hanya bermakna satu hal, tidak semua kaum muslimin mendapatkan pengajaran khusus dari Rasulullah, hanya orang terdekat beliau yang bersedia merendahkan dirinya dihadapan beliau secara utuh karena keyakinannya kepada janji Allah dan kapasitas Rasulullah yang akhirnya menerima pengajaran beliau tentang isi Kitab Suci secara lebih menyeluruh.

    Untuk itulah maka Allah dalam firmannya yang tercatat pada Al-Qur'an yang sampai pada manusia melalui perantara Rasulullah selalu menekankan akan pentingnya ilmu. Perintah Allah kepada umat manusia yang disampaikan melalui perantara Rasulullah tersebut akhirnya berhasil menuntun manusia kepada ilmu pengetahuan, sehingga saat ini manusia dapat membuktikan kebenaran ayat-ayat suci Al-Qur'an itu sendiri dengan pembuktian ilmiah.

  4. #4
    ROLer Starter Roller Starter
    Join Date
    Sep 2011
    Usia
    39
    Posts
    193
    Rep Power
    3
    Apabila memasuki pembahasan tentang ilmu dalam Islam, maka mazhab ahlulbayt atau mazhab syiah adalah satu-satunya mazhab dalam Islam yang menganggap ilmu merupakan salah satu hal yang terpenting. Karena dalam Islam mazhab ahlulbayt atau mazhab Syiah ilmu mempunyai kaitan yang erat dengan kesempurnaan tauhid. Menurut mazhab ahlulbayt atau syiah, ilmu mempunyai kedudukan atau nilai nomor kedua setelah kesempurnaan tauhid, kesempurnaan tauhid adalah hal yang terpenting dalam ber-Tuhan. Ilmu kedudukannya nomor dua setelah kesempurnaan tauhid. Akan tetapi ternyata diperlukan ilmu untuk mencapai posisi kesempurnaan tauhid. Atau dengan kata lain untuk mencapai kedudukan tertinggi yaitu level kesempurnaan tauhid, manusia wajib pula lulus pada kedudukan yang kedua, yaitu kedudukan di level ilmu.

    Atau dengan kata lain, mustahil bagi manusia untuk mendapatkan pemahaman kesempurnaan tauhid tanpa ilmu. Hubungan antara Kesempurnan Tauhid dan ilmu menurut Islam mazhab ahlulbayt atau mazhab Syiah dapat diibaratkan sebagaimana hubungan antara sebuah kota dengan gerbangnya, Untuk memasuki kota harus melalui gerbang kota tersebut. Untuk mencapai Kesempurnaan Tauhid harus melalui ilmu. Oleh karena itu ilmu menurut mazhab ahlulbayt nilainya lebih daripada jihad fi sabilillah, dan amal ibadah. Oleh karena itu ilmu juga merupakan jihad dan amal ibadah, bahkan ilmu adalah jihad dan amal yang tertinggi.

    tuntunan atau dalil orang-orang dari mazhab Ahlulbait atau Syiah dalam menyatakan bahwa posisi ilmu adalah nomor dua setelah tauhid, dimana kesempurnaan tauhid berada pada kedudukan yang tertinggi, ada banyak.

    tapi yang terpenting diantaranya ada dua dalil. dalil yang pertama adalah QS 29 ayat 20, surat Al Ankabut,

    Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, kemudian Allah menjadikannya sekali lagi . Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.

    menurut kaum muslimin mazhab ahlulbayt, ayat diatas adalah ayat utama dari Alqur'an yang menuntun manusia menuju kepada tauhid. Tauhid adalah persaksian dan pengakuan manusia akan penciptaan dirinya oleh Tuhannya yaitu Allah.

    Kitab suci Alqur'an adalah kitab yang menerangkan SEGALA SESUATU, jadi pada hakikatnya tidak ada lagi yang dilewatkan oleh Alqur'an untuk menjawab segala permasalahan dan pertanyaan yang mungkin diajukan oleh manusia. Ilmu mempunyai tingkatan-tingkatan. Tingkatan yang termasuk paling tinggi adalah hikmah. Ayat tentang hikmah juga banyak terkandung dalam Alqur'an.

    Sedangkan dalam menjelaskan segala sesuatu yang mungkin ditanyakan oleh manusia tersebut Kitab suci Alqur'an secara gamblang mengandung beberapa metode, salah satu diantara metodenya adalah hikmah tersebut.

    jawaban dari pertanyaan manusia yang berupa hikmah, membimbing manusia untuk melakukan merenung dan kontemplasi. hikmah biasanya diberikan kepada manusia yang sedikit banyak telah mempunyai ilmu yang berkaitan dengan segala hal di luar dirinya, atau dengan kata lain hikmah diberikan kepada orang-orang yang telah berpengalaman dalam kehidupan dan bersedia merenungkannya.

    Sedangkan ilmu pada level dibawah hikmah yang memrintahkan manusia untuk mendapatkan ilmu atau pemahaman din luar dirinya diantaranya yang telah disebutkan diatas, yaitu ayat suci Alqur'an, surat Al Ankabut 20.

    Selain menggunakan metode hikmah, Alqur'an juga menggunakan metode tuntunan. untuk menerangkan berbagai pertanyaan manusia yang berkaitan dengan segala sesuatu di luar dirinya seperti alam semesta ini, Alqur'an menggunakan metode tuntunan.

    Surat Al Ankabut secara langsung telah menuntun umat manusia untuk mencari ilmu di lar dirinya. Ilmu-ilmu yang secara umum levelnya memang lebih rendah daripada ilmu hikmah. Tetapi level tersebut tetap wajib diikuti oleh kaum muslimin apabila dia hendak mencapai level yang lebih tinggi lagi, yaitu level hikmah.

    Pada ayat 20 surat Al-Ankabut disebutkan bahwa manusia diperintahkan untuk berjalan di muka bumi untuk mengetahui bagaimana Allah menciptakan manusia di masa awal. Kemudian dengan berjalan di muka bumi itupula kita akan dapat mengetahui bagaimana Allah menciptakan manusia-manusia berikutnya. detail lebih jelas lagi dari penafsiran ayat ini akan diuraikan pada pembahasan lainnya.

    Tapi makna ayat yang cukup gamblang disebutkan oleh ayat tersebut adalah bahwa Allah memerintahkan manusia untuk mencari ilmu pengetahuan, berjalan dimuka bumi mempunyai makna bahwa kesempurnaan tauhid tersebut diperoleh dengan mencari ilmu. Alqur'an tidak memerintahkan manusia untuk melihat lagi pada Alqur'an itu sendiri untuk bertauhid kepada Allah, tetapi Alqur'an memerintahkan manusia untuk mencari ilmu sebagai langkah awal dalam mendapatkan pemahaman tauhid.

    Dalil kaum muslimin mazhab ahlulbayt (Syiah) lainnya yang menyatakan bahwa ilmu merupakan suatu jalan utama untuk mencapai kesempurnaan tauhid adalah sebuiah hadis Rasulullah.

    Hadis ini hanya beredar di kalangan ahlulbayt dan tidak dikenal sama sekali oleh kaum muslim sunni.

    Dalam hadis tersebut Rasulullah bersabda: "Sebaik-baiknya pembantu iman adalah ilmu. sebaik-baiknya pembantu ilmu adalah akal. sebaik-baiknya pembantu akal adalah kelembutan. sebaik-baiknya pembantu kelembutan adalah kelunakan" Biharul Anwar 75/52

    Hadis ini sebenarnya senafas dengan surat Al Ankabut 20, terutama kalimat pertamanya, "Sebaik-baik pembantu iman adalah ilmu"

    Dalam mencapai tauhid manusia membutuhkan dua hal. dan kedua hal tersebut melibatkan ilmu.

    Yang pertama adalah ilmu-ilmu yang harus diperoleh manusia dengan cara kognitif terhadap berbagai fenomena diluar dirinya. dengan ilmu-ilmu tersebut manusia diperintahkan untuk dapat memurnikannya menjadi hikmah. setelah memperoleh hikmah tersebut, manusia manusia diwajibkan untuk memurnikan berbagai hikmah kebijaksanaan tersebut menjadi pemahaman kesempurnaan tauhid.

    kronologi proses diatas memerlukan dua tahapan atau dua hal sehingga manusia dapat memperoleh pemahaman kesempurnaan tauhid,
    yang pertama adalah mendapatkannya secara kognitif, kemudian hasilnya diproses lebih lanjut secara batiniah. Nah untuk memprosesnya dibutuhkan usaha untuk memurnikan ilmu-ilmu menjadi hikmah, dan hikmah menjadi pemahaman kesempurnaan tauhid.

    Untuk mendapatkan kemampuan memurnikan ilmu dan hikmah tersebut manusia membutuhkan penyucian jiwa. Penyucian jiwa diperlukan untuk mendapatkan hidayah dari Allah, Hidayah adalah tuntunan yang bersifat pemberian mutlak. Hidayah dapat pula dikatakan sebagai Tauhid yang fitrah. Fitrah karena merupakan pemberian mutlak dari Allah tanpa perlu manusia tersebut melakukan usaha. Akan tetapi manusia baru dapat mengapresiasi Hidayah atau Tauhid yang bersifat pemberian mutlak tersebut dengan sempurna jika ia mampu menyelaraskan atau menghubungkan antara hidayah atau potensi Fitrah yang ada di dalam dirinya tersebut dengan fenomena-fenomena yang berada di luar dirinya. Atau dengan kata lain tauhid yang telah ada dalam diri manusia tersebut belum mencapai kesempurnaan sebelum manusia tersebut mampu menghubungkan tauhid yang merupakan pemberian Allah secara mutlak dan telah ada di dalam dirinya tersebut dengan pembuktian tauhid melalui fenomena-fenomena ciptaan Allah yang berada di luar dirinya. Untuk menghubungkannya dibutuhkan ilmu.

    Dengan cara membandingkan, dengan tujuan menemukan hubungan atau keselarasan antara Potensi Fitrahnya dengan fenomena-fenomena yang berada di luar dirinya, manusia akan mampu menghayati potensi fitrahnya sendiri. Potensi fitrah manusia juga lebih sering oleh kalangan luas disebut dengan hati nurani. Oleh karena itu seiring dengan perjalanan hidupnya manusia harus selalu tetap menjaga keadaan hatinya. Sedikit banyak diperlukan pula ilmu kognitif dan hikmah supaya manusia selalu dapat tetap fitri dengan cara mampu menjaga keadaan hatinya selalu bersih. ilmu dan hikmah sedikit banyak akan membantu menuntun manusia untuk terbiasa mengikuti insting ilahiahnya, insting tersebut akan menghindarkan manusia dari segala hal yang akan menjauhkan atau menghalangi manusia itu sendiri dari mendapatkan hidayah atau tuntunan langsung dari Allah.
    Last edited by slebore; 10-07-2011 at 09:50 AM.

  5. #5
    ROLer Starter Roller Starter
    Join Date
    Sep 2011
    Usia
    39
    Posts
    193
    Rep Power
    3
    QS Al-Ankabut 20 tersebut sebenarnya juga bisa digunakan untuk menganalisa teori Evolusi. Islam mazhab ahlulbayt atau (Syiah) menerima hal itu. bisa dibaca pada beberapa pandangan ulama terkemuka mereka. juga bisa dibaca pada buku mereka: Filsafat Sains menurut Al-Qur'an, karya Dr Mehdi Golzhani, terbitan Mizan. Pada buku ini terdapat ayat-ayat Al-Qur'an yan menunjukkan adanya teori Evolusi

    Yang ditolak oleh Islam menurut mazhab Ahlulbayt bukanlah teori Evolusi akan tetapi teori evolusi Darwin. Kesalahan fundamental dari teori evolusi darwin adalah bawa ia (Darwin) menisbatkan timbulnya beragam spesies yang berbeda ini karena faktor variasi/mutasi, kemudian terjadi seleksi alam. Hal ini jelas tidak sesuai dengan fakta yang ada (fakta paleontologis) dan fakta rasional (hitungahn matematis).

    Apabila benar adanya mutasi secara acak yang menyebabkan adanya variasi, maka seharusnya untuk menghasilkan dua spesies berbeda yang berasal dari satu spesies asal dibutuhkan banyak spesies perantara. Maka untuk menghasilkan keberagaman fauna dan hayati seperti yang ada sekarang ini semestinya dibutuhkan adanya jutaan bahkan trilyunan spesies binatang dan tumbuhan perantara yang gagal beradaptasi/ gagal seleksi. dan tentunya menghasilkan timbunan jumlah fosil yang jauh lebih banyak lagi. Bahkan bisa jadi lapisan kerak kulit bumi ini seharusnya terbentuk dari fosil-fosil binatang-binatang dan tumbuhan yang mengalami mutasi, untuk menghasilkan jumlah keberagaman fauna dan hayati seperti yang ada sekarang. kenyataannya eksplorasi paleontologi tidak menunjukkan fakta tersebut.


    Maka Teori Evolusi Darwin yang didasarkan pada mutasi dan seleksi alam sesungguhnya telah runtuh. Tapi tidak demikian halnya dengan Teori Evolusi Agama.

    Teori Evolusi Agama menisbatkan bahwa adanya variasi makhluk-makhluk di alam semesta ini tidaklah berdasarkan pada mutasi dan seleksi alam. yang apabila ditarik landasan filosofisnya akan ditemui bahwa Teori Mutasi dan Seleksi Alam Darwinisme mendasarkan bahwa penciptaan ini hanyalah berdasar pada azas kebetulan belaka.

    Bagi Teori Evolusi Agama tidak ada kebetulan dalam rancangan penciptaan alam ini. Teori Evolusi Agama mendasarkan diri bahwa keberagaman Ciptaan ini disebabkan karena makhluk sebagai obyek evolusi juga sekaligus memiliki kehendak ikhtiari sebagai subyek evolusi, untuk mengembangkan dirinya mengikuti tuntunan dan kehendak Ilahiah. Maka alam semesta sebagai makhluk Allah dan termasuk segala makhluk-makhluk Allah yang lainnya di alam itu sendiri, dalam usahanya untuk mencapai keridhaan-Nya, dilakukan dengan cara mendekatkan diri dengan kehendak-Nya dan berupaya secara sadar untuk mewujudkan kehendak Allah atas dirinya. Dengan ini maka ia sekaligus juga telah mengembangkan potensi dirinya tidak hanya secara batiniah kepada Allah SWT, etapi juga secara material akan terbentuk proses evolusi makhluk-makhluk Allah yang menunjukkan keagungan-Nya. Apabila ada kehendak ikhtiari makhluk-makhluk Allah untuk mengembangkan diri ke arah yang lebih baik dalam upaya untuk mencapai kehendak Allah yang akan berakibat akan diperolehnya keridhaan-Nya, maka evolusi terjadi secara terarah, terencana, dengan penuh kesadaran dsan mewujudkan rancangan adanya Pencipta dibelakang semua materialisme yang terindera ini.


    kita bukanlah keturunan kera atau monyet. kalau berasal-usul yang sama; iya, akan tetapi kita bukan berasal dari kera, tapi kalau ditilik dari teori evolusi sesungguhnya bahkan gajah dengan semut juga berasal dari asal yang sama.

    ingat bahwa biasanya yang pada awalnya sangat bertentangan dengan ilmu pengetahuan adalah doktrin-doktrin gereja dan cerita-cerita israiliyat, cerita gubahan-gubahan para ulana ahlul kitab yang ingkar kepada Allah. Mereka selalu keras menentang ilmu pengetahuan. Ingat yang terjadi pada Galileo. Gereja juga sangat menentang Teori Evolusi, karena kebodohan, mereka menisbatkan bahwa teori Evolusi beranggapan bahwa manusia adalah keturunan kera, padahal manusia dan kera berada pada cabang yang berbeda.

    sebenarnya banyak doktrin sejarah Islam yang penafsirannya malah mengadopsi cerita-cerita israiliyat (cerita-cerita yang telah dipalsukan oleh pendeta2 yahudi yang mengikuti hawa nafsunya) seperti misalnya anggapan incest yang terjadi pada putra-putri Nabi Adam. Padahal incest dilarang dalam agama, pembunuhan Habil adalah pembunuhan yang pertamakalinya di dunia yang dikarenakan incest, KIta patut mempertanyakan asal-usul doktrin kita sendiri yang agak aneh, dan tidak bersumber dari Kitab Suci Alqur'an, patut diketahui bahwa bahkan binatang yang bebas hidup liar di alam tidak pernah melakukan incest! binatang yang melakukan incest adalah binatang yang hidup dalam peliharaan ekosistem buatan manusia. sunnguh amat aneh jika binatang tidak melakukan incest tapi manusia justru melakukannya! hal ini melalui tuntunan agama pula!

    Patut diketahui bahwa amat banyak terjadi pengadopsian cerita-cerita Islam yang diambil dari cerita-cerita Israiliyat, seperti misalnya bahwa perempuan diambil dari tulang rusuk laki-laki, cerita ini adanya di kitab perjanjian lama (bukan dalam Alqur-an) Alqur'an sendiri telah menjelaskan bahwa Kitab-kitab Yahudi banyak yang telah disimpangkan ceritanya oleh 'ulama' mereka yang ingkar. Apabila menengok cerita Perjanjian Lama Yahudi maka akan banyak sekali ditemui kekacauan cerita, seperti cerita Nabi Luth yang meniduri anak perempuannya sendiri, Nabi Nuh yang mabuk, dll. Kebetulan cerita dari Bani Israil inilah yang banyak diambil oleh kalangan muslim awal sebagai sumber rujukan, hal ini disebabkan keengganan mereka mengambil sumber dari ahlulbayt sebagai rujukan sumber cerita sejarah kisah manusia di masa lampau.


    Selain daripada itu sejarah membuktikan bahwa tradisi yang selalu bertentangan dengan ilmu pengetahuan di masa lampau adalah tradisi ahlul kitab, terutama tradisi gereja. tercatat Galileo Galilei dan Charles Darwin sendiri adalah pihak-pihak yang amat sangat dimusuhi oleh gereja, karena ilmu pengetahuan bertentangan dengan doktrin gereja. Sedangkan Islam justru merupakan agama dimana ilmu pengetahuan sangat subur dan dipupuk secara mendalam oleh agama ini. Tercatat banyak ilmuwan Islam yang sampai sekarang merupakan para peletak landasan ilmu pengetahuan di dunia
    Last edited by slebore; 10-18-2011 at 02:20 PM.

  6. #6
    ROLer Starter Roller Starter
    Join Date
    Sep 2011
    Usia
    39
    Posts
    193
    Rep Power
    3
    diantara ulama Islam yang pernah mengetengahkan teori evolusi dalam Islam adalah Dr Mehdi Golshani dalam bukunya: "Filsafat Sains Menurut Al-Qur'an", pernah diterbuitkan oleh penerbit MIZAN

    dibawah ini sedikit banyak kontribusi beliau dalam keilmuan:

    Mehdi Golshani was born in Isfahan, Iran in 1939. He received his early education in Isfahan and graduated from Tehran University with a B. S. in Physics in 1959. He then went to the United States to continue studies in physics. He received his Ph.D. in Physics from the University of California in Berkeley in 1969, with specialization in particle physics. In 1970, he joined Sharif University of Technology in Tehran and for over three decades has had a strong voice in the direction and design of the educational programs in the science departments. He served as the chairman of the Physics Department during 1973-1975 and 1987-1989. From 1978-1980 he was the vice chancellor of the university, handling academic and student affairs. Since 1991 he has been the distinguished professor of physics at this university. He founded the Faculty of the Philosophy of Science at Sharif University of Technology, which was established in 1995, and has been its chairman since then. Since 1989 he has been a member of the Scientific Council for the Institute for Theoretical Physics and Mathematics. He was the head of the Department of Basic Sciences at the Academy of Science 1990-2000. He received the John Templeton Award for Science and Religion Course Program in 1995, and has served as a judge for the John Templeton Award for Progress in Religion.

    Mehdi Golshani has been the director of the Institute for Humanities and Cultural Studies in Tehran since 1993 and a member of Iran’s High Council for Cultural Revolution since 1996. He holds membership in the Academy of Sciences (Islamic Republic of Iran), the American Association of Physics Teachers, the Philosophy of Science Association (Michigan), the European Society for the Study of Science and Theology and was Senior Associate, International Center for Theoretical Physics, Triest 1990-1995.

    Golshani has written numerous books and articles on physics, philosophy of physics, science and religion, and science and theology. In all of Golshani’s works, there is a clear attempt to help revive the scientific spirit in the Muslim world. His first book on the relationship between science and religion was the Holy Qur’an and the Sciences of Nature, which first appeared in Persian in 1985 and then was translated into several other languages, including English and Arabic. This book deals with the Islamic conception of knowledge, the references to natural phenomena in the Qur’an and the basic problems of epistemology from the Qur’anic perspective. This book received appreciative recognition from Sheikh Muhammad al-Ghazzali of Egypt.

    Golshani has written several treatises on Islamic science. In “How to Make Sense of Islamic Science” (American Journal of Islamic Social Sciences, 2000) he says that Islamic Science has relevance at both the theoretical and practical levels: First, for doing scientific work, we must accept that the world with which science deals is orderly and lawful. This cannot be deduced from science itself. Rather, we need the philosophical assumption that the unknown is similar to the known and that the data of science are applicable for all times and places with confidence. Without these assumptions we cannot generalize our scientific findings.

    Second, the applicability of mathematics to the physical world seems miraculous. Why should the symbols created by the human mind be suitable for unravelling the mysteries of the universe and for giving us control over the physical world? It seems that there is an underlying rational built into the fabric of the universe and that there is a tuning between the human mind and the rest of the cosmos, which makes the universe understandable to human beings. Without the existence of these two factors there would be no science.

    Third, the question now arises as to why the reality has this built-in order, and why the human mind can comprehend it. One answer would be that this is just the way things are. But, this is not the kind of answer that can give us confidence about the universality of science. A more substantial response is that this is the state of affairs because God made it that way. This is moving on from a metaphysical realism to theism.

    Finally, in view of the foregoing considerations, it seems reasonable to claim that science can get its legitimacy in no other context than a theistic one. This is because science requires presuppositions that are only deducible from theism. The history of the development of modern science is a good witness to this fact.

    To verify his view that there are many common elements between the Abrahamic faiths, as far as the relation of science and religion is concerned, Golshani approached scientists, philosophers and theologians with eight crucial questions addressing the relationship of science and religion. The responses of thirty two of the many scholars whom he questioned were published in the book Can Science Dispense with Religion? Golshani concluded in this book that both science and religion are important aspects of our lives and neither one should be sacrificed for the sake of the other. There are no conflicts between science and religion if they are properly understood and if the specific domain of each one is correctly recognized and preserved.

    For Mehdi Golshani, as a scientist, the search for the absolute Truth is the main task, and the many ways to accomplish this search are all ways of worship. For example, the study of nature for the sake of revealing God’s signs in nature is a kind of worship. The study of natural phenomena teaches the origin and the evolution of the world, the presence of order and harmony in the universe, the presence of a telos for the universe, the significance of humanity, the possibility of resurrection and the interrelatedness of different parts of nature at a deep level, which point to the unicity of creation.
    Last edited by slebore; 10-18-2011 at 02:13 PM.

  7. #7
    ROLer Starter Roller Starter
    Join Date
    Sep 2011
    Usia
    39
    Posts
    193
    Rep Power
    3
    berikut sedikit banyak paper2 karya Dr Mehdi Golzhani

    1. Papers on Physics (in English)

    Golshani, Mehdi, “Excitation of Highly Ionized Atoms by Electron Impact” in Physical Review A, 5, No. 6, 1970, p.

    --, “Weinberg’s Angle from Elastic and Quasi-Elastic Scattering of Neutrinos and Antineutrinos off Nucleons” in II Nuovo Cimento, 39, No. 1, 1977, p. 120

    --, “A Vector Like Gauge Theory of Weak and Electromagnetic Interactions with Su(3) ´ U(1) Symmetry” in University of Pennsylvania Preprint - 0075 T (1977)

    --, Langacker, P and Segre, G. “Gauge Theory of Weak and Electromagnetic Interactions with an Su(3) ´ U(1) Symmetry” in Physical Rev. B, 17, No. 5, 1978, p. 1402

    --, “ A Quart Potential for Nucleonic Quarks” in Journal of Science, I. R., Vol. 9, No. 1, Winter 1998, p. 63

    --, Shojai, A. “On the Position Operator for Massless Particles” in Annales do la Fondation Louis de Broglie, 22, No. 4, 1997, p. 373

    --, Shojai, A. “ Is Superluminal Motion Observable in Relativistic Bohm’s Theory”in Annales de la Fondation Louis de Broglie, 23, No. 2, 1998, p. 81

    --, Abolhasani, A. “ Bohmain Time Versus Probabilistic Time” in Acta Physica Polonia B, 29, 1998

    --, Shojai, F. “ On the Geometrization of Bohmian Mechanics: A New Approach to Quantum Gravity” in International J. of Modern Physics A, 13, No. 4, 1998, p. 77

    --, Shojai, F. “On the General Covariance in Bohmian Quantum Gravity” in International J. of Modern Physics A, 13, No. 13, 1998, p. 2135

    --, Shojai, A. and Shojai, F. “Conformal Transformations and Quantum Gravity” in Modern Phys. Letters A, 13, No. 34, 1998, p. 2725

    --, Shojai, A. and Shojai, F. “Scalar-Tensor Theories and Quantum Gravity” in Modern Physics Letters A, 13, No. 36, 1998, p. 2915

    --, Shojai, A. and Shojai, F. “Non-Local Effects in Quantum Gravity” in Modern Physics Letters A, 13, No. 37, 1998, p. 2965

    --, Abolhasani, A. “ Born’s Principle, Action-Reaction Problem and Arrow of Time” in Foundation of Physics Letters, 12, No. 3, 1999, p. 299

    --, Motavali, H. and Salehi, H. “Conformal Invariance and Quantum Aspects of Matter” accepted for publication in International Journal of Modern Physics A.

    --, Motavali, H and Salehi, H. “Conformal Invariance and Wave-Particle Duality” in Modern Physics Letters A, 14, No. 36, 1999. p. 2481

    --, Abolhasani, M. “ Tunneling Times in the Copenhagen Interpretation of Quantum Mechanics” accepted for publication in Physical Review A, June 2000



    2. Papers on Science and Theology (in English)

    --, “The Scientific Dimension of the Qur’an” in Al-Tawhid, Vol. V, No. 1, 1408

    --, “Science and Muslim Ummah” in Al-Tawhid, Vol. 1, No. 1, 1404

    --, “ Philosophy of Science: A Qur’anic Perspective” in Al-Tawhid, Vol. II, No. 1, 1405

    --, “The Significance of the Spiritual Life from the Qur’anic Outlook” in Islamic Thought and Scientific Creativity, Vol. 7, No. 4, 1996

    --, “ The Significance of Physical Sciences in Islamic Outlook and the Need for a Renaissance in Islamic Polity” in Islamic Thought and Creativity, Vol. 5, No. 1, 1994, p. 73

    --, “ God and Contemporary Physicists” in Islamic Thought and Creativity, Vol. 6, No. 2, 1995, p. 7

    --, “How I Understand the Study of Science as a Muslim” in CTNS Bulletin, 17. 4, Fall 1977, p. 6

    --, “ Science and the Spiritual Quest: A Muslim Perspective” in Science and Spirit, Vol. 9, No. 5, Dec. 1998, p. 40

    --, “How to Make Sense of `Islamic Science’” in American Journal of Islamic Social Sciences, Vol. 17, Fall 2000, p. 1

    --, “Islam and the Sciences of Nature: Some Fundamental Questions” in Islamic Studies, Vol. 39, Winter 2000, No. 4, p. 597



    3. Chapter of a Book (in English)

    --, “The Sciences of Nature in an Islamic Perspective” in The Concept of Nature in Science & Theology (SSTh 4/1996), ed. by N. H. Gregersen et al. (Geneva: Labor et Fides, 1998), pp. 56-62

    -- and Shojai, A. “ Direct Particle Quantum Interaction” in Contemporary Fundamental Physics, 1, ed. by V.V. Dvoeglazor (Huntington, New York: Nova Publishers, Inc., 2000), p. 270

    --, “Ways of Understanding Nature in the Qur’anic Perspective” in The Interplay between Scientific and Theological Worldviews (SSTh 6/1998), ed. by N. H. Gregersen et al. (Geneva: Labor et Fides, 1999), p. 183

    --, “Philosophy of Science from the Qur’anic Perspective” in Towards Islamization of Disciplines (Hendon, Virginia: International Institute of Islamic Thought, 1989), p. 71

    --, “ Theistic Science” in God for the Twenty First Century (USA: John Templeton Foundation, 2000)

    —, “ Have Physicists Been Able to Dispense with Philosophy? in Recent Advances in Relativity Theory, ed. by M. C. Duffy & M. Wegener (Palm Harbor, Fl. : Hadronic Press, 2001) p.90.

    —, "The Ladder of God" in Faith in Science: Scientists Search for Truth (London: Routledge, Fall 2001).

    --, “Creation in the Islamic Outlook” in God, Life, and the Cosmos: Christian and Islamic Perspectives (to be published)

    --, “Causality in the Islamic Outlook and in Modern Physics” in Studies in Science and Theology, Vol. 8, ed. by N. H. Gregersen (ESSSAT, Fall 2001)



    4. Books (in English)

    --, The Holy Qur’an and the Sciences of Nature (New York: Global Publications, 1998)

    --, English Translation of the Holy Qur’an, Vol. 1 (Tehran: Islamic Propagation Organization, 1991)

    --, From Physics to Metaphysics (Tehran: Institute for Humanities and Cultural Studies, 1998)

    --, Can Science Dispense with Religion? ed., (Tehran: Institute for Humanities and Cultural Studies, 1998)



    5. Conference Papers (in English)

    --, “ The Status of Physics in Iran” at ASPEN Conference, Physics Education in Asia, Kuala Lumpur 14-17, Oct., 1987

    --, “ Have Physicists Been Able to Dispense with Philosophy?” at The Physical Interpretation of Relativity Theory Conference, London, 1990

    --, “Physical Reality and Contemporary Physics” at Symposium for the Foundation of Physics, 1990, Joensu, Finland

    --, “Man in the Qur’anic Outlook” at The Seventh European Conference on Science and Theology, Durham, March 26-31, 1998

    --, “Does Science Provide Evidence of Purpose and a Transcendent Reality?” at Science and Spiritual Quest Conference, Berkeley, June 7-10, 1998

    --, “Priorities of Science in the Islamic Polity” at The Ninth Islamic Academy of Sciences Conference, Tehran, 26-30 July, 1999

  8. #8
    ROLer Starter Roller Starter
    Join Date
    Sep 2011
    Usia
    39
    Posts
    193
    Rep Power
    3

    Geber (Jabir Bin Hayyan) dan Imam Ja'far Ash-Shadiq

    Setelah masuk Islam, banyak sekali orang Persia yang menjadi ilmuwan Islam, bahkan hampir 70% ilmuwan Islam pada masa keemasan Islam adalah orang-orang Persia, tiga tokoh besar ilmuwan yang meletakkan dasar-dasar keilmuwan modern, adalah orang persia, mereka adalah Al-Khawarizmi, peletak pondasi ilmu aljabar, Ibnu Sina peletak dasar ilmu kedokteran dan Geber peletak dasar ilmu kimia. dibawah ini ada sedikit kisah tentang Geber

    Pada tahun pertama abad Hijriah atau pada tahun 720 Masehi, Jabir bin Hayyan dilahirkan. Tahun kelahirannya bersamaan dengan tahun kematian Khalifah Umar Al-Khattab. Di kampung Tus (kota di timur laut Iran) inilah Jabir dibesarkan dan berkembang dari segi akal dan ilmunya.

    Sebagai anak bongsu dalam keluarganya, dia sering dimanjakan oleh saudara-saudaranya yang lain. Meskipun demikian, Jabir lebih suka menyendiri sambil memperhatikan fenomena alam dari awal dan tentang dunia kehidupan. Dia sering meneliti ikan di sungai Hiri Rud, membuat penelitian ke hutan belantara di sekitar Tus serta kebun-kebun yang dipenuhi oleh tumbuhan dan binatang serta unggas.

    Jabir tidak bosan-bosannya untuk bertanya kepada ayahnya mengenai apa yang tidak dia ketahuinya. Hayyan selalu memperhatikan kecerdasan dan rasa ingin tahu anaknya. Dia mengajarkan Jabir tentang beberapa rahsia alam sejak awal mengenai galian dan batuan. Hayyan bingung setelah besar nanti anaknya akan cenderung ke arah penelitian seperti ahli falsafah dan ahli kimia. Ia harus sabar menghadapi anaknya yang selalu ingin tahu itu.

    Hayyan menjelaskan kepada Jabir tentang batuan seperti yang difahami oleh ahli falsafah dan selalu mengingatkan anaknya agar tidak menyia-nyiakan umurnya untuk mengkaji masalah ini. Sebaliknya dia menasihati anaknya agar mendalami dulu ilmu pengetahuan sejak awal dan matematik, kerana dengan mengetahui kedua ilmu ini kita bisa memperoleh masalah-masalah baru dalam ilmu kimia.

    Pada zaman Kekuasaan Bani Umayyah yang terakhir iaitu pada zaman Marwan bin Muhammad, bintang kerajaan Umayyah hampir padam. Ketika itu Jabir telah berusia dua puluh tahun. Pergolakan untuk merebut kekuasaan politik semakin meruncing antara Bani Umayyah, Bani Hasyim, dan kubu Alawiyyah. Para ahli propaganda Bani Hasyim dan kubu Alawiyyah memasuki seluruh pelosok wilayah Iran, Fars, dan Iraq agar rakyat semuanya bersatu untuk memberi dukungan kepada Bani Hasyim dan Alawiyyah.

    Kelemahan telah menjalar dalam urat nadi Bani Umayyah, penyakit tua telah menguasai insan yang telah lanjut usia juga bisa terjadi kepada umur kekuasaan. Penyakit tua ini juga menjalar dalam kerajaan Umayyah.

    Hayyan bekerja keras untuk menolong Ahlul Bait, iaitu keturunan Rasulullah saw. dengan lidah dan pedangnya. Dia ikut berjuang bersama-sama pemimpinnya, Abu Muslim Khurasani. Demi tujuan ini, dia meninggalkan keluarganya berbulan-bulan lamanya, berkumpul bersama tokoh politik dan berperang bersama tentara. Begitulah keadaannya selama beberapa tahun.

    Pada suatu hari, Jabir ingin mengangkat pedangnya dan keluar untuk menentang tentara Umayyah yang dipimpin Nasr bin Sayyar, tetapi dilarang oleh ayahnya. Hayyan berkata kepada anaknya, “Allah tidak menciptakan manusia sepertimu untuk berperang maupun untuk politik. Seorang ilmuwan itu seperti satu umat dengan sendirinya. Ilmuwan ialah pewaris para Nabi pada setiap zaman dan tempat. Sekarang, pergilah merantau ke barat, iaitu antara wilayah-wilayah Islam dan carilah ilmu. Tidak banyak ilmu yang ada di kawasan kita ini.”

    Hayyan meninggalkan keluarganya sambil berjanji akan kembali lagi. Namun, Hayyan tidak kembali kerana dia mati syahid di medan pertempuran. Jabir mengikuti nasihat ayahnya untuk tidak berkecimpung di bidang politik atau berperang tetapi ia tekun mempelajari ilmu pengetahuan.

    Ketika kerajaan Umayyah telah tamat riwayatnya dan tampuk kekuasaan dipegang oleh Khaifah Abbasiyyah pertama iaitu Abu al Abbas. Ibu kota kerajaan beralih dari Damsyik ke al Anbar, di sebelah barat sungai Furat (Efrat) yang terletak di timur laut Kufah, Iraq.

    Wilayah-wilayah Iraq telah berikrar akan taat dan setia kepada khalifah yang baru. Pada waktu itu, usia Jabir sudah memasuki tiga puluh tahun. Waktu yang bersamaan dengan tahun ke-32 pada abad pertama Hijriah.

    Jabir menyiapkan bekal untuk mengembara mencari ilmu. Dia membujuk ibunya agar menemaninya dalam pengembaraan itu. Saudara-saudaranya yang lain tinggal dengan kaum kerabat mereka dari Bani Azd di kampung Tus. Jabir juga membawa kitab-kitabnya dan menetap di Kufah dalam sebuah rumah yang terletak di lorong Bab ash Sham yang kemudian diberi nama Jalan Emas kerana Jabir menetap di situ bertahun-tahun lamanya.

    Kufah terletak di salah sebuah anak sungai Furat. Kufah mulai dibangun oleh Saad bin Abi Waqqas sebagai markas tentaranya. Setelah itu, Kufah menjadi ibu kota pemerintahan Amirul Mukminin Ali bin Abi Thalib. Tulisan Arab yang kini dikenal sebagai Khat Kufi berasal dari kota ini. Kota Kufah mempunyai iklim yang menarik. Institut ilmu Fiqih dan ilmu Bahasa di kota ini menyaingi institut dalam bidang serupa di kota Basrah.

    Cukup lama Jabir menetap di Kufah. Tahun berganti tahun. Abu al Abbas wafat dan digantkan oleh Abu Ja’far al Mansyur.

    Suatu hari Jabir sedang membaca dalam kamarnya sambil menulis hawamisy atau anotasi. Tiba-tiba ibunya masuk dan memperkenalkan seorang tamu iaitu Imam dan Faqih Ja’far ash Shadiq yang adalah sahabat ayahnya.

    Imam Ja’far ash Shadiq bertanya kepada Jabir tentang apa yang dipelajarinya yang berhubungan dengan ilmu agama, kerana seorang ilmuwan itu harus memiliki nilai-nilai agama dan menguasai ilmu bahasa.

    Imam Ja’far merasa gembira setelah Jabir memberitahu bahawa dia hafal Alquran, banyak hadis selain mengetahui nahwu dan sharaf serta fiqih dan bahasa.

    Imam Ja’far berkata kepada Jabir, “Segala puji bagi Allah. Ingatlah selalu Jabir, bahawa bahasa seorang ilmuwan itu harus sesuai dengan maknanya. Dalam bidang ilmu, sepantasnya kata nama yang menunjukkan diri seorang hanya memberi arti seorang, bukan sebaliknya.”

    Imam Ja’far mengajarkan Jabir ilmu kimia seperti yang terdapat pada orang Yunani, Mesir, Parsi, India dan Cina. Beliau juga mengatakan bagaimana ilmu-ilmu itu selalu berhubungan satu dengan lainnya.

    Imam Ja’far ash Shadiq mengirimkan kitab Qaratis dari Madinah kepada Jabir. Jabir mengkaji buku ini dengan tekun sampai ia faham benar isi kitab tersebut. Ia mengkaji warisan ilmu para ilmuwan kimia terdahulu, termasuk ilmuwan Parsi dan Cina. Keahlian seni pertukangan dan pengobatan juga dipelajarinya.

    Setelah sekian lama, Jabir menerima surat dari Imam Ja’far ash Shadiq yang ditulis sebelum beliau wafat. Dalam surat itu, Imam Ja’far ash Shadiq berkata kepada Jabir, “Wahai Jabir, seberat-berat kesalahan adalah orang yang suka mengurangi hak saudaranya. Siapa yang suka mengurangi hak saudaranya, maka Allah akan menimpakan kesusahan kepadanya. Jika iman kita mantap, kebakhilan pun hilang seperti tercabutnya bulu dari kulit. Jabir, sesudah memberikan hak keluargamau, janganlah kamu melebihkan seseorang dengan yang lainnya. Jika kamu berbuat begitu, niscaya kamu tergolong ke dalam orang yang sesat.”

    “Jabi, terimalah murid-murid yang ingin mewarisi ilmu setelah kamu. Berkat bimbingan dan ajaranmu, mereka akan dapat memanfaatkan kitab-kitabmu yang sulit difahami. Ilmu yang utama ialah ilmu amal, kemudian barulah ilmu kitab.”

    “Ujilah orang yang belajar denganmu, seperti kamu menguji benda dan unsur, kerana manusia itu bagaikan logam. Tidak seorangpun petani yang mau menanam pohon pada batu, maupun di tempat yang tandus.”

    “Ketahuilah Jabir, ilmu itu bukanlah penghasilan orang perorangan atau seorang ilmuwan. Jangan hanya menetap di Kufah saja sampai kamu dimakan usia, seperti air yang akan menjadi keruh kerana disimpan terlalu lama. Ilmu itu ibarat serbuk bunga yang ditiup angin sampai ke mana-mana. Mengembaralah untuk mencari ilmu dan untuk menemukan para ahli. Jauhilah raja sekuat yang kamu mampu”

    “Berhati-hatilah agar tidak seorangpun mencuri ilmu kamu untuk masalah-masalah mungkar. Jangan memberikan jalan untuknya mendapatkan rahasia yang terkandung di dalam kitab-kitabmu untuk tujuan jahat.”

    “Tentukan apa yang kamu perlukan dalam ilmu kimia dan jangan terlalu jelas agar ilmuwan saja yang bisa memahami kamu, kerana hanya ilmuwan dan pakar yang mampu memahami rahasia pembuatan. Oleh sebab itu, mudahkanlah kaedah pemahaman dan pencernaan bagi para ilmuwan. Jangan biarkan bahasa menguasaimu tapi kuasailah bahasa itu. Jangan biarkan keterangan dan data membanjirimu tapi letakkan sesuatu itu pada tempatnya yang wajar.”

    “Ketahuilah Jabir, bahawa ada orang yang menyalahgunakan ilmu sebagaimana orang yang menyalahgunakan agama. Jauhilah orang yang demikian, kerana dia akan merusak amalan ilmunya di hadapan manusia di dunia ini dan di hadapan Allah pada akhirat nanti.”

    Jabir pindah ke Baghdad setelah Khalifah Mansur selesai membangun kota tersebut dan memindahkan semua pusat pemerintahan kerajaan dari kota Hasyimiyyah (al Anbar).



    http://ummahonline.wordpress.com/200...ir-bin-hayyan/

  9. #9
    ROLer Starter Roller Starter
    Join Date
    Sep 2011
    Usia
    39
    Posts
    193
    Rep Power
    3
    Jabir bin Hayyan mengajarkan ilmu ukuran, kaedah-kaedah timbangan dan dimensi, dan apa pun ketika melakukan penelitian. Semua ini baru dipelajari di Eropah enam abad kemudian. Jabir juga mengajarkan bahawa setiap benda bisa terbakar, logam (yang keras) bisa dioksidakan dan terbuat dari bahan merkuri, sulfit atau garam galian (ini ialah pendapat Philogestin). Dunia mengenal pendapat ini seribu tahun setelah Jabir.

    Dia juga mengajarkan yang berkenaan dengan teori kimia yang terjadi ketika pencantuman atom unsur-unsur yang saling bereaksi. Ini ialah pendapat yang dikatakan kembali oleh Dalton seribu tahun setelah Jabir.

    Jabir juga mengajarkan bahawa ada kemungkinan dari segi teori untuk menukar logam-logam biasa dengan logam-logam yang mahal, dan sebaliknya. Pendapat yang dibuktikan keabsahannya pada kurun abad ke-20 dalam bidang fizik.

    Jabir menciptakan batu kaustik (nitrat perak) untuk mengobati luka atau anggota tubuh yang rusak. Proses ini diketahui dan digunakan sampai sekarang. Kemudian beliau menciptakan tinta yang bersinar dari karat besi. Tinta ini berguna untuk membaca surat yang berharga atau surat-surat ketentaraan dalam peperangan pada waktu malam yang gelap tanpa harus memerlukan lampu. Kemudian beliau menciptakan cat yang memlihara pakaian dari kelembaban, cat yang menghindari pengoksidaan besi, dan cat yang membuat kayu api. Cat ini adalah titik awal ilmu perawatan dasar pada zaman sekarang.

    Jabir menciptakan kertas anti api yang bisa digunakan untuk menulis dokumen berharga dan surat-surat penting. Setelah menemukan air perada serta air emas, Jabir menemukan air perah, unsur kalium, garam amonia, sulfit, merkuri, asid sulfurik, sulfat merkuri, oksida arsenik, karbonat plumbum, unsur antimoni, klorida merkuri, unsur natrium, lodit merkuri, dan minyak vitriol asli.

    Sebelum itu, Jabir telah menemukan acid nitrik dan acid hidroklorit. Kedua acid (asam) ini telah memungkinkannya mendapatkan air perada. Jabir menciptakan penyulingan cuka (acid asetik) yang kini disebut khalik salji, proses pencelupan kain, untuk menyamak kuli, dan memisahkan perak dari emas dengan menggunakan acid nitrik.

    Jabir menggunakan oksida magnesium untuk membuat kaca. Dia menguraikan proses kerja kimia sejak awal dengan baik sekali iaitu penguapan, pemisahan, penempatan. Jabir adalah orang pertama yang merintis proses peleburan dan pembentukan logam dengan menggunakan oksigen. Jabir menjelaskan tentang racun dan bagaimana membuang bisanya dengan menggunakan ilmu toksikologi.

    Orang barat mengetahui penemuannya dari orang Arab sewaktu peperangan Andalusia, Syiria, dan Asia Kecil dari para pengembara dan pedagang yang menyeberangi Laut Mediterania. Orang Barat mulai menterjemahkan buku-buku Jabir ke bahsa latin menjelang abad ke-13 Masehi, iaitu empat abad setelah Jabir.

    Di antara kitab yang paling terkenal ialah kitab al Khalis, kitab al Istitmam, kitab al Istifa, dan kitab at Taklis. Holmyard menyebutkan dalam bukunya al Kimiya ilal asr Daltun (Kimia hingga ke zaman Dalton) bahawa kitab-kitab karangan Jabir yang diterjemahkan ke bahasa Latin mempunyai pengaruh yang kuat terhadap perkembangan ilmu kimia di Eropah. Di zaman abad pertengahan belum ada kitab yang seperti kitab-kitab Jabir.

    Dari bahasa Arab dan Latin, kitab-kitab Jabir diterjemahkan ke bahasa Eropah yang lain. Kitab ini menjadi dasar ilmu kimia di Eropah sampai penghujung abad ke-18 Masehi. Banyak penemuan orang barat yang dikaitkan dengan pendapat dan teori Jabir.

    Banyak bab dalam buku-buku itu mengatakan tentang Jabir, di antaranya Kardan Fo, Holmyard, George Sarton, De Lacy O’Leary, dan Bartello. Paul Kraus menerbitkan sebuah buku tentang Jabir dalam dua jilid.

    Di Paris, Holmyard menerbitkan hasil karya Jabir tentang ilmu kimia, anatara kitab-kitab Jabir dalam versi bahasa Arab yang awal telah hilang, tetapi terjemahan Latinnya masih ada. Ini juga dilakukan oleh Paul Kraus dalam bukunya al Mukhtar min Rasa’il Jabir (Koleksi pilihan dari risalah-risalah Jabir) yang dihasilkan di Kaherah.

    Paul Kraus dan Holmyard berpendapat bahawa dalam mewarisi ilmu kimia Yunani dan Timur, Jabir bin Hayyan adalah ahli kimia yang paling banyak melakukan penelitian dan uji coba serta penyusunan, paling jauh dari sifat rahsia dan kiasan. Mereka juga berpendapat bahawa kebijaksanaan Jabir meninggalkan taraf kerja-kerja dalam makmal dan manjauhkan alam tahayul.

    Oleh sebab itu, teori-teorinya menjadi jelas dan rapi. Disebabkan oleh analisisnya yang tajam dan tuntas. Jabir bin Hayyan meletakkan ilmu kimia di atas landasan yang mantap dan kuat.

  10. #10
    ROLer Starter Roller Starter
    Join Date
    Sep 2011
    Usia
    39
    Posts
    193
    Rep Power
    3

    Elegi Ekspresi Pandangan Dunian Ilahiah

    Elegi yang sedikit banyak menunjukkan tauhid mazhab ahlulbayt (Syiah) yaitu: Pandangan Dunia Ilahiah, sekaligus membandingkannya dengan rivalnya, yaitu: Pandangan Dunia Materialisme.

    Seorang penganut mazhab ahlulbayt (syiah) ketika dalam puncak ibadahnya, setelah usai bermunajat kepada Allah setelah memasuki makam hazrat Imam Ali Ar-Ridha di Masyhad Iran, ia ketika dalam puncak pencapaiannya ia kemudian berelegi, yang mana elegi tersebut tidak bermakna ratapan dukacita akan tetapi justru sebaliknya ia seolah-olah berekspresi yang mengekspresikan pandangan Allah kepada makhluk-makhluk-Nya. Ia berkata pada dirinya lagi, atau dengan kata lain terbentuk satu lagi dirinya, dan salah satu berkata pada satu lainnya. Atau dengan kata lain ia monolog berkata-kata pada dirinya sendiri, dan salah satu dirinya seolah-olah berperan sebagai Allah yang sedang berkata pada dirinya yang satunya. Ia seolah-olah kerasukan oleh kesadaran Ilahiah. Kita sebut seolah-olah, karena bagaimanapun tiada ungkapan material, seperti kata-kata itu dapat mengungkapkan keDirian Allah yang sebenarnya, bahkan Rasulullahpun sebagai makhluk-Nya yang terdekat dan tiada makhluk diantara takterhingga makhluk-Nya yang lebih dekat kepada Allah daripada Rasulullah juga tidak akan mungkin dapat menyatu 100% dengan-Nya. Atau dengan kata lain, hanya Allahlah yang benar-benar tahu tentang diri-Nya. Tapi bagaimanapun manusia harus terus berusaha untuk mendekati pada penglihatan Ilahiah
    Elegi tersebut akhirnya dapat ditangkap maknanya bukan bermakna duka tapi justru menunjukkan betapa besarnya Kebesaran dan Kekuasaan Allah kepada hamba-hamba-Nya, makhluk-makhluk material ini. sedikit banyak elegi tersebut dapat menjadi arah dan sedikit petunjuk menuju keimanan bagi yang mampu menangkap maksudnya, demikian elegi tersebut:

    Kehendak-Ku (Allah) terwujud dengan penciptaan-Ku akan makhluk-makhluk-Ku. Kehendak adalah satu diantara ketakterhinggaan sifat-Ku. Tapi merupakan sifat-Ku yang paling tidak dominan. Sifat-Ku yang dominan dan mendasari semua sifat-sifat-Ku adalah kebesaran-Ku yang meliputi segalanya dan ketakterbatasan-Ku. Kebesaran-Ku dan ketakterbatasan-Ku adalah dasar manifestasi semua sifat-sifat-Ku. Oleh karenanya zat-Ku meliputi seluruh semesta ruang dan keberadaan, sehingga sebenarnya tidak ada itu kekosongan. Pada hakikatnya terdapat zat-Ku dimanapun dan berada di manapun termasuk di ‘ruang’ yang dalam pandangan indera dan pikiran manusia adalah ruang kosong. Oleh karena itu sebenarnya tidak ada itu ruang kosong. Hanya saja dalam dunia materi ini, Aku menggaibkan zat-Ku dihadapan indera, perasaan dan pikiran makhluk-Ku. Apabila Aku berkehendak zat-Ku untuk gaib maka kehendak manusia untuk mengindera-Ku jelas tak akan mampu terlaksana. Ibarat orang yang main petak umpet. Orang tidak tampak oleh si pencari karena bersembunyi. Aku sengaja bersembunyi karena memang Ku-kehendaki diri-Ku tidak terlihat oleh si pencari. bagaimana jika Aku yang berkehendak untuk bersembunyi (tak terlihat)?, maka kehendak-Ku untuk menggaibkan zat-Ku dari indera dan pikiran manusia berada diatas kehendak, pikiran dan segala usaha manusia untuk melihat zat-Ku. Karena Aku mengetahui apa isi, perasaan, pikiran, dan kehendak manusia sebelum kehendak manusia itu menyadari-Ku. Ibarat kecepatan cahaya pun bagaikan kecepatan yang paling lambat bahkan berhenti, tak memiliki kecepatan dihadapan-Ku. Cahaya tak mampu menyentuh-Ku. Ibarat orang berenang yang berpindah di air, air mengalir ke tempat yang telah ditinggalkan oleh orang yang berpindah itu, dan tempat yang dulu ditempati air sekarang ditempati oleh orang itu. Tapi orang yang berenang itu masih sedikit dapat merasakan air melalui gesekan aliran air dengan tubuhnya. Air selalu beradaptasi menyesuaikan dengan bentuk sekitarnya. Tapi udara bisa lebih lembut lagi, udara lebih tidak terasa oleh manusia yang berada di dalamnya. Tapi bagaimana jika zat-Ku yang menyelimuti segala yang terindera manusia ini? Jelas tidak akan mampu dirasakan bahkan tidak hanya oleh indera peraba manusia tapi juga oleh pikiran dan kehendak manusia. Tapi bahkan tidak seperti itu, Aku lebih dari itu. Aku tidak seperti udara ataupun air yang memerlukan berpindah. Tidak mungkin Aku memerlukan berpindah, zat-Ku maha kuasa. Berarti hamba-hamba-Ku, kalianlah yang semu. Jika kalian berpindah maka kuasa-Ku yang membentukmu di suatu tempat Aku hentikan, dan Aku tampakkan kuasa-Ku untuk menegakkan kialian di tempat lain dimana kalian berpindah. Tapi bahkan lebih dari itu, segala bentuk dan makhluk ciptaan serta kehidupannya di alam material atau inderawi ini pada hakikatnya adalah ilusi-Ku. Yang ter-Gaib menurut indera hamba-hamba-Ku sebenarnya justru diri-Ku, Sang Hyang Nyata. Sedangkan yang tampak antar indera kalian sendiri sebenarnya adalah justru yang tidak nyata. Manusia yang mempunyai iman kepada-Ku mampu menyadari keberadaan-Ku walaupun tidak terjangkau oleh indera, perasaan dan pikirannya. Sementara yang ingkar kepada-Ku tidak akan percaya segala sesuatu yang tidak terdeteksi oleh indera, perasaan dan pikirannya.
    Last edited by slebore; 10-29-2011 at 06:22 PM.

Bookmarks

Posting Permissions

  • You may not post new threads
  • You may not post replies
  • You may not post attachments
  • You may not edit your posts
  •