Announcement

Collapse
No announcement yet.

Kasidi no. 385

Collapse
X
  • Filter
  • Time
  • Show
Clear All
new posts

  • Kasidi no. 385

    Utamakan bahasa Indonesia, lestarikan bahasa daerah, dan kuasai bahasa asing, sebagai slogan penyemangat bagi mereka yang sedang semangat-semangatnya belajar bahasa tentu saja bagus bahkan sangat bagus. Bahasa Indonesia itu cuma satu, bahasa daerah di Indonesia yang dulu jumlahnya ribuan sekarang tersisa kurang lebih tujuh ratusan, dan bahasa asing jumlahnya juga ratusan.
    Utamakan bahasa yang satu karena bahasa ini memang bahasa nasional, bahasa persatuan, bahasa pemersatu yang telah terbukti sebagai salah satu faktor yang melahirkan negara ini. Dari Sabang sampai Merauke, dari Talaud sampai Pulau Rote, atau dari mana saja, bahkan sampai ke pelosok dunia sekali pun, jika ada dua atau tiga orang Indonesia berkumpul, maka di situ seharusnya bahasa Indonesia digunakan, dan bukannya bahasa yang lain. Inilah sifat alami bahasa persatuan yang sekaligus bahasa kebanggaan.
    Bahasa persatuan ini juga bahasa yang hidup dan terus berkembang. Perkembangan paling akhir berkaitan dengan kata ‘hoax’ yang sebagai kosa kata bahasa Inggris hendaknya dilafalkan /hǝuks/ dan sekarang nyatanya telah diserap oleh bahasa Indonesia menjadi ‘hoaks’ yang hendaknya dilafalkan sesuai dengan tulisannya. Singkat kata, jika ditulis ‘hoax’ maka ya harus dibaca /hǝuks/ , tetapi kalau ingin dibaca /hoaks/ maka ya harus ditulis ‘hoaks’.
    Pengetahuan sederhana ini memang tidak akan menyebabkan dunia kiamat jika ada orang tidak cermat menggunakan kosa kata yang baru saja diserap oleh bahasa Indonesia ini, tetapi tetap saja akan terasa ‘elok dan elegan’ jika banyak orang, yang melandaskan pengetahuan umum tentang kosakata baru, dapat menggunakannya dengan tepat, cermat, dan bulat. Jadi tidak lonjong atau kotak-kotak, jadi tidak asal bunyi, jadi tidak ‘ngawur’. Tepat konteks, tepat makna, tepat lafal, tepat gramatikal. Itulah harapannya.
    Hanya saja ada yang jauh lebih penting, jika kata ‘hoaks’ tetap ingin dijadikan perbincangan, yaitu dampaknya sebagai identitas paling populer di dunia maya saat ini, khususnya jika tidak diwaspadai. Ribuan atau bahkan mungkin puluhan ribu berita yang tidak karuan juntrungannya berlalu-lalang setiap hari. Ada yang diciptakan sebagai pelampiasan kreasi iseng, tetapi banyak juga yang sengaja diciptakan untuk maksud jahat. Yang pertama saja dapat sangat mengganggu dan menimbulkan dampak kerugian begitu besar, apalagi yang memang sengaja diciptakan untuk maksud jahat. Dampaknya tentu lebih besar, masif, dan merusak.
    Menggunakan kata ini dengan cermat dan elegan tentu saja penting, tetapi yang jauh lebih penting lagi adalah memastikan kita semua tidak beramai-ramai membodohi dan membodohkan diri sendiri dengan menjadi agen penyebar berita-berita yang jelas-jelas bohong, penuh fitnah dan hasutan, serta tidak logis dan rasional. Apalagi jika setiap orang tanpa memikirkan dampaknya ikut serta dengan sukarela dan riang gembira menyebarluaskan berita ‘hoaks’ itu ke mana-mana, ke para sahabat, handai taulan dan bahkan keluarga.
    Jika beritanya benar, bermanfaat dan oke, tentu saja tidak masalah, tetapi bagaimana jika beritanya bukan saja tidak benar tetapi isinya menghasut? Memang rasanya tidak rasional juga jika beranggapan bahwa sebagian besar warga dunia maya ini masuk ke dalam kelompok ‘mudah dihasut’ – kelompok yang secara populer kadang disebut sebagai kelompok bersumbu pendek - sehingga melalui berita tidak bermutu yang tergolong ‘hoaks’ yang picisan saja mereka mudah tersulut amarahnya dan siap melakukan apa saja untuk menghancurkan dan merusak. Tentu saja keadaannya tidak seperti itu tetapi berkaca dari banyak kejadian kok sepertinya pernyataan ‘tentu tidak seperti itu’ ya agak diragukan.
    Negara ini orang-orangnya pintar dan cerdas, rasional dan dipenuhi dengan akal sehat, beriman dan bertakwa, ramah dan sopan, jujur dan sederhana, periang dan ceria, menghormati sesama menjadi budaya dan landasan utama dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana bisa negara dengan warga berkualitas seperti yang disebutkan oleh Kasidi ini tiba-tiba berubah seratus delapan puluh derajat perilaku hanya karena ada satu atau dua berita yang menyebar luas, padahal kemudian berita itu terbukti tidak benar? Di mana salahnya kok banyak yang bersumbu pendek, meskipun yang bersumbu panjang juga ada dan banyak?
    Yang paling merepotkan adalah ketika mereka yang memegang posisi sangat kunci eh ternyata bukan saja sok tahu tetapi ternyata juga picik dan rasialis di samping pendusta dan penggunting dalam lipatan? Nah bagaimana kalau orang seperti ini ikut menjadi sumber berita hoaks meskipun ya tetap saja bergaya ‘lempar batu sembunyi tangan’? Coba bagaimana kalau sudah begini? Kasidi 385 - 📌🌹📌 – XZSS18052017 – 087853451949
    apa yang didapatkan secara cuma-cuma berikan juga secara cuma-cuma ...

  • #2
    Aku cinta bahasa Indonesia




    _______________________________________________
    Informasi harga mesin batu bata merah dan segala tipenya bisa dilihat secara detail di Website kami

    Comment

    Working...
    X